Tempo Papua

Loading

Fenomena ‘Pasukan Ngreyek’ Sisi Unik dan Manusiawi dalam Ritual Kasada

Fenomena ‘Pasukan Ngreyek’ Sisi Unik dan Manusiawi dalam Ritual Kasada

Ritual Yadnya Kasada di Gunung Bromo selalu menyajikan pemandangan yang luar biasa setiap tahunnya bagi para wisatawan. Selain prosesi larung sesaji yang sakral oleh warga Suku Tengger, terdapat satu pemandangan yang sangat menarik perhatian publik. Inilah munculnya Fenomena ‘Pasukan Ngreyek’ yang berdiri di lereng kawah untuk menangkap berbagai jenis persembahan.

Mereka bukanlah perusak ritual, melainkan warga dari luar daerah atau masyarakat lokal yang mencoba peruntungan menangkap sesaji. Para pengreyek ini bersiap dengan jaring, kain, bahkan tangan kosong untuk menyambut hasil bumi yang dilemparkan. Fenomena ‘Pasukan ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika sosial yang terjadi di bibir kawah Bromo.

Dari sudut pandang antropologi, keberadaan mereka menunjukkan sisi manusiawi dan interaksi unik antara pemberi dan penerima berkah. Suku Tengger sendiri tidak merasa keberatan dengan kehadiran mereka, karena meyakini bahwa sesaji yang tertangkap tetap akan membawa manfaat. Fenomena ‘Pasukan Ngreyek’ mencerminkan bahwa berkah dari alam semesta bisa dinikmati oleh siapa saja tanpa terkecuali.

Keberanian para pengreyek berdiri di tebing kawah yang curam seringkali membuat jantung para penonton berdegup kencang secara dramatis. Mereka mempertaruhkan keselamatan demi mendapatkan ayam, buah-buahan, hingga uang yang dilarung oleh umat Hindu Tengger di sana. Fenomena ‘Pasukan yang sangat lincah ini menambah elemen ketegangan sekaligus hiburan di tengah suasana upacara yang penuh kesakralan.

Secara teknis, para pengreyek memiliki strategi khusus untuk memastikan mereka mendapatkan barang berharga tanpa terjatuh ke dalam kawah. Mereka biasanya berkelompok dan saling menjaga posisi agar tetap seimbang saat angin kencang menerjang puncak gunung Bromo. Ketangkasan mereka adalah hasil dari pengalaman bertahun-tahun mengikuti ritual tahunan ini dengan penuh keberanian tinggi.

Interaksi antara umat yang beribadah dengan para pengreyek menciptakan sebuah harmoni sosial yang mungkin sulit ditemukan di tempat lain. Tidak ada konflik yang terjadi; justru ada semacam kesepakatan tidak tertulis mengenai hak atas benda yang dilarung. Hal ini membuktikan bahwa tradisi Kasada mampu merangkul berbagai kepentingan manusia dalam satu ruang spiritual.

Bagi fotografer dan jurnalis, kehadiran para pengreyek adalah objek foto yang sangat eksotis dan kaya akan nilai cerita manusia. Foto-foto mereka yang sedang berebut sesaji di tengah kepulan asap belerang sering menjadi viral di media sosial. Visual ini membantu mempromosikan pariwisata Bromo sebagai destinasi yang memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam.