Literasi Digital Agama: Benteng Menghadapi Radikalisme Online
Pesatnya perkembangan teknologi informasi tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga tantangan besar berupa penyebaran paham yang menyimpang dan radikal. Memperkuat Literasi Digital Agama di kalangan masyarakat, terutama generasi milenial dan Gen Z, merupakan langkah darurat untuk melindungi mereka dari pengaruh konten negatif yang sering kali dibungkus dengan narasi religius yang seolah-olah benar. Tanpa kemampuan filter yang kuat, seseorang akan sangat mudah terprovokasi oleh konten provokatif yang bertujuan memecah belah persatuan bangsa atau menghalalkan kekerasan atas nama keyakinan tertentu.
Aspek pertama dalam literasi ini adalah kemampuan membedakan sumber informasi yang kredibel dengan yang tidak jelas asal-usulnya. Dalam meningkatkan Literasi Digital Agama, kita harus membiasakan diri untuk selalu memeriksa latar belakang pengunggah konten atau pemateri dalam sebuah video dakwah. Jangan hanya terpesona oleh banyaknya jumlah “views” atau penampilan lahiriah yang meyakinkan. Ulama atau cendekiawan yang memiliki sanad keilmuan yang jelas dan track record yang moderat biasanya akan menyampaikan pesan yang menyejukkan dan mempersatukan, bukan pesan kebencian yang memicu permusuhan antar sesama manusia atau sesama warga negara.
Selanjutnya, penting untuk memahami konteks sebuah dalil secara utuh dan tidak sepotong-sepotong dalam belajar. Dalam upaya membangun Literasi Digital Agama, kita harus kritis terhadap kutipan ayat atau hadis yang sengaja diputus konteks aslinya (cherry-picking) untuk mendukung agenda kelompok tertentu yang ingin membenarkan tindakan ekstrem. Belajar agama memerlukan bimbingan langsung dari guru agar tidak terjadi salah tafsir yang membahayakan. Ruang digital seharusnya hanyalah suplemen atau tambahan informasi, bukan sumber tunggal dalam membentuk pemahaman keagamaan seseorang yang sangat kompleks dan mendalam secara teologis maupun praktis.
Selain itu, kesadaran akan etika berdiskusi di dunia maya juga menjadi bagian dari literasi ini secara menyeluruh. Dengan memiliki Literasi Digital Agama yang baik, seseorang akan lebih bijaksana dalam merespons perbedaan pendapat di kolom komentar tanpa harus mengeluarkan kata-kata kasar atau menghakimi secara sepihak. Radikalisme sering kali bermula dari intoleransi dan rasa merasa paling benar sendiri (self-righteousness). Dengan mengedepankan dialog yang sehat dan berbasis data, kita bisa membangun narasi tandingan (counter-narrative) yang lebih positif, inklusif, dan damai untuk menjaga keharmonisan di tengah kemajemukan bangsa kita yang sangat luar biasa indah.

